Loading...
Showing posts with label Budidaya Lele. Show all posts
Showing posts with label Budidaya Lele. Show all posts

Rahasia Ternak Lele Sangkuriang Dengan Keuntungan Berlipat-Lipat

October 01, 2017 Add Comment
Rahasia Ternak Lele Sangkuriang Dengan Keuntungan Berlipat-Lipat


Tips Lengkap Ternak Lele Sangkuriang- Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air Tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele sangkuriang berkembang pesat dikarenakan :

1) dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi,
2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat,
3) pemasarannya relatif mudah dan
4) modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.

Pengembangan usaha budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985.

Keunggulan lele dumbo dibanding lele lokal antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan terhadap penyakit.Namun demikian perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung pengelolaan induk yang baik menyebabkan lele dumbo mengalami penurunan kualitas.

Hal ini karena adanya perkawinan sekerabat (inbreeding), seleksi induk yang salah atas penggunaan induk yang berkualitas rendah. Penurunan kualitas ini dapat diamati dari karakter umum pertama matang gonad, derajat penetasan telur, pertumbuhan harian, daya tahan terhadap penyakit dan nilai FCR (Feeding Conversion Rate).

Sebagai upaya perbaikan mutu ikan lele dumbo BBAT Sukabumi telah berhasil melakukan rekayasa genetik untuk menghasilkan lele dumbo strain baru yang diberi nama lele Sangkuriang. Seperti halnya sifat biologi lele dumbo terdahulu, lele sangkuriang tergolong omnivora.

Di alam ataupun lingkungan budidaya, ia dapat memanfaatkan plankton, cacing, insekta, udang-udang kecil dan mollusca sebagai makanannya. Untuk usaha budidaya, penggunaan pakan komersil (pellet) sangat dianjurkan karena berpengaruh besar terhadap peningkatan efisiensi dan produktivitas.

Tujuan pembuatan Petunjuk Teknis ini adalah untuk memberikan cara dan teknik pemeliharaan ikan lele dumbo strain Lele Sangkuriang yang dilakukan dalam rangka peningkatan produksi Perikanan untuk meningkatkan ketersediaan protein hewani dan tingkat konsumsi ikan bagi masyarakat Indonesia.

Berdasarkan keunggulan lele dumbo hasil perbaikan mutu dan sediaan induk yang ada di BBAT Sukabumi, maka lele dumbo tersebut layak untuk dijadikan induk dasar yaitu induk yang dilepas oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dan telah dilakukan diseminasi kepada instansi/pembudidaya yang memerlukan. Induk lele dumbo hasil perbaikan ini, diberi nama "Lele Sangkuriang".

Induk lele Sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetik melalui cara silang balik antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6).

Induk betina F2 merupakan koleksi yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi yang berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke Indonesia tahun 1985.

Sedangkan induk jantan F6 merupakan sediaan induk yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi. Induk dasar yang didiseminasikan dihasilkan dari silang balik tahap kedua antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan hasil silang balik tahap pertama (F2 6).Budidaya lele Sangkuriang dapat dilakukan di areal dengan ketinggian 1 m - 800 m dpi.

Persyaratan lokasi, baik kualitas tanah maupun air tidak terlalu spesifik, artinya dengan penggunaan teknologi yang memadai terutama pengaturan suhu air budidaya masih tetap dapat dilakukan pada lahan yang memiliki ketinggian diatas >800 m dpi.

Namun bila budidaya dikembangkan dalam skala massal harus tetap memperhatikan tata ruang dan lingkungan sosial sekitarnya artinya kawasan budidaya yang dikembangkan sejalan dengan kebijakan yang dilakukan Pemda setempat.

Budidaya lele sangkuriang, baik kegiatan pembenihan maupun pembesaran dapat dilakukan di kolam tanah, bak tembok atau bak plastik. Budidaya di bak tembok dan bak plastik dapat memanfaatkan lahan pekarangan ataupun lahan marjinal lainnya.

Sumber air dapat menggunakan aliran irigasi, air sumu (air permukaan atau sumur dalam), ataupun air hujan yan sudah dikondisikan terlebih dulu. Parameter kualitas air yang baik untuk

pemeliharaan ikan lele sangkuriang adalah sebagai berikut:


a. Suhu air yang ideal untuk pertumbuhan ikan lele berkisar antara 22-32C. Suhu air akan mempengaruhi laju pertumbuhan, laju metabolisme ikan dan napsu makan ikan serta kelarutan oksigen dalam air. b. pH air yang ideal berkisar antara 6-9. c. Oksigen terlarut di dalam air harus > 1 mg/l.

Budidaya ikan lele Sangkuriang dapat dilakukan dalam bak plastik, bak tembok atau kolam tanah. Dalam budidaya ikan lele di kolam yang perlu diperhatikan adalah pembuatan kolam, pembuatan pintu pemasukan dan pengeluaran air.Bentuk kolam yang ideal untuk pemeliharaan ikan lele adalah empat persegi panjang dengan ukuran 100-500 m2.

Kedalaman kolam berkisar antara 1,0-1,5 m dengan kemiringan kolam dari pemasukan air ke pembuangan 0,5%. Pada bagian tengah dasar kolam dibuat parit (kamalir) yang memanjang dari pemasukan air ke pengeluaran air (monik).


Parit dibuat selebar 30-50 cm dengan kedalaman 10-15 cm.Sebaiknya pintu pemasukan dan pengeluaran air berukuran antara 15-20 cm. Pintu pengeluaran dapat berupa monik atau siphon. Monik terbuat dari semen atau tembok yang terdiri dari dua bagian yaitu bagian kotak dan pipa pengeluaran.

Pada bagian kotak dipasang papan penyekat terdiri dari dua lapis yang diantaranya diisi dengan tanah dan satu lapis saringan. Tinggi papan disesuaikan dengan tinggi air yang dikehendaki.

Sedangkan pengeluaran air yang berupa siphon lebih sederhana, yaitu hanya terdiri dari pipa paralon yang terpasang didasar kolam dibawah pematang dengan bantuan pipa berbentuk "L" mencuat ke atas sesuai dengan ketinggian air kolam.

Saringan dapat dipasang pada pintu pemasukan dan pengeluaran agar ikan lele sangkuriang jangan ada yang lolos keluar/masuk.

Pelaksanaan BudidayaSebelum benih ikan lele sangkuriang ditebarkan di kolam pembesaran, yang perlu diperhatikan adalah tentang kesiapan kolam meliputi:a. Persiapan kolam tanah (tradisional). Pengolahan dasar kolam yang terdiri dari pencangkulan atau pembajakan tanah dasar kolam dan meratakannya.

Dinding kolam diperkeras dengan memukul-mukulnya dengan menggunakan balok kayu agar keras dan padat supaya tidak terjadi kebocoran.

Pemopokan pematang untuk kolam tanah (menutupi bagian-bagian kolam yang bocor). Untuk tempat berlindung ikan (benih ikan lele sangkuriang) sekaligus mempermudah pemanenan maka dibuat parit/kamalir dan kubangan (bak untuk pemanenan).

Memberikan kapur ke dalam kolam yang bertujuan untuk memberantas hama, penyakit dan memperbaiki kualitas tanah. Dosis yang dianjurkan adalah 20-200 gram/m2, tergantung pada keasaman kolam.

Untuk kolam dengan pH rendah dapat diberikan kapur lebih banyak, juga sebaliknya apabila tanah sudah cukup baik, pemberian kapur dapat dilakukan sekedar untuk memberantas hama penyakit yang kemungkinan terdapat di kolam.

Pemupukan dengan kotoran ternak ayam, berkisar antara 500-700 gram/m2; urea 15 gram/m2; SP3 10 gram/m2; NH4N03 15 gram/m2.

Pada pintu pemasukan dan pengeluaran air dipasang penyaring
Kemudian dilakukan pengisian air kolam.
Kolam dibiarkan selama 7 (tujuh) hari, guna memberi kesempatan tumbuhnya makanan alami.

b. Persiapan kolam tembok

Persiapan kolam tembok hampir sama dengan kolam tanah. Bedanya, pada kolam tembok tidak dilakukan pengolahan dasar kolam, perbaikan parit dan bak untuk panen, karena parit dan bak untuk panen biasanya sudah dibuat Permanen.

c. Penebaran Benih

Sebelum benih ditebarkan sebaiknya benih disuci hamakan dulu dengan merendamnya didalam larutan KM5N04 (Kalium permanganat) atau PK dengan dosis 35 gram/m2 selama 24 jam atau formalin dengan dosis 25 mg/l selama 5-10 menit.

Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari atau pada saat udara tidak panas. Sebelum ditebarkan ke kolam, benih diaklimatisasi dulu (perlakuan penyesuaian suhu) dengan cara memasukan air kolam sedikit demi sedikit ke dalam wadah pengangkut benih.

Benih yang sudah teraklimatisasi akan dengan sendirinya keluar dari kantong (wadah) angkut benih menuju lingkungan yang baru yaitu kolam.

Hal ini berarti bahwa perlakuan tersebut dilaksanakan diatas permukaan air kolam dimana wadah (kantong) benih mengapung diatas air. Jumlah benih lele sangkuriang yang ditebar 35-50 ekor/m2 yang berukuran 5-8 cm.

d. Pemberian Pakan

Selain makanan alami, untuk mempercepat pertumbuhan ikan lele sangkuriang perlu pemberian makanan tambahan berupa pellet. Jumlah makanan yang diberikan sebanyak 2-5% perhari dari berat total ikan yang ditebarkan di kolam.

Pemberian pakan frekuensinya 3-4 kali setiap hari. Sedangkan komposisi makanan buatan dapat dibuat dari campuran dedak halus dengan ikan rucah dengan perbandingan 1:9 atau campuran dedak halus, bekatul, jagung, cincangan bekicot dengan perbandingan 2:1:1:1 campuran tersebut dapat dibuat bentuk pellet.

e. Pemanenan

Ikan lele Sangkuriang akan mencapai ukuran konsumsi setelah dibesarkan selama 130 hari, dengan bobot antara 200 - 250 gram per ekor dengan panjang 15 - 20 cm.

Pemanenan dilakukan dengan cara menyurutkan air kolam. Ikan lele sangkuriang akan berkumpul di kamalir dan kubangan, sehingga mudah ditangkap dengan menggunakan waring atau lambit.

Cara lain penangkapan yaitu dengan menggunakan pipa ruas bambu atau pipa paralon/bambu diletakkan didasar kolam, pada waktu air kolam disurutkan, ikan lele akan masuk kedalam ruas bambu/paralon, maka dengan mudah lele sangkuriang dapat ditangkap atau diangkat.

Ikan lele hasil tangkapan dikumpulkan pada wadah berupa ayakan/happa yang dipasang di kolam yang airnya terus mengalir untuk diistirahatkan sebelum lele sangkuriang tersebut diangkut untuk dipasarkan.

Cara Budidaya Ikan Lele Sangkuriang .- Pengangkutan ikan lele dapat dilakukan dengan menggunakan karamba, pikulan ikan atau jerigen plastik yang diperluas lubang permukaannya dan dengan jumlah air yang sedikit.

Langkah Awal Cara budidaya ikan lele yang wajib anda ketahui

September 28, 2017 Add Comment
Langkah Awal Cara beternak ikan lele Untuk Pemula .- Memilih usaha ternyata tidak harus dilihat bentuk yang wah. Ada banyak peluang yang bisa anda peroleh justru dari hal terlihat sepele. Contohnya adalah budidaya ikan lele.

Ikan berkumis ini memang masih dipandang sebelah mata oleh pebisnis, padahal, rejeki yang ia janjikan cukup menjanjikan. swalayan besar hingga warung tenda kaki lima membutuh pasokan lele yang cukup banyak secara rutin.

Mungkin kita tak pernah menggubris warung tenda yang menjajakan menu pecel lele yang berderet di sepenjang jalan. Padahal, kontinuitas kebutuhan lele di warung tenda umumnya lebih pasti bila dibanding dengan kebutuhan lele di supermarket. Warung-warung seperti itu banyak tersebar di setiap kota.

Memulai bisnis lele tidah harus selalu diawali dengan hitungan yang jelimet serta bikin pusing. Anda bisa memualinya dengan sekedar bejlan-jalan santai, nongkrong sambil iseng mencicipi menu ikan lele.

Berdasarkan Tempo 2011 "kebutuhan pasar lele di Jakarta sangat besar sekitar 80 ton per hari. Saat ini, kebutuhan lele baru terpenuhi 40 ton per hari. Sehingga, peluang untuk mengembangkan usaha lele masih terbuka luas"

Hal senada juga dikatakan oleh forum Agromedia  "Kebutuhan atau permintaan terhadap lele tidak pernah surut, bahkan cenderung meningkat setiap tahun. Boleh dibilang, produksi yang ada saat ini belum mampu memenuhi permintaan pasar.

Untuk wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok saja, setiap hari membutuhkan sekitar 75 ton lele konsumsi. Tingkat konsumsi lele nasional pada tahun 2003 meningkat 18.3%, yakni dari 24.991 ton/tahun menjadi 57.740 ton/tahun.

Revitalisasi lele sampai akhir tahun 2009 menargetkan produksi sejumlah 175 ton atau meningkat rata-rata 21.64% per tahun. Sementara itu, permintaan benih lele juga terus meningkat dari 156 juta ekor pada tahun 1999 menjadi 360 juta ekor pada tahun 2003 atau meningkat rata-rata sebesar 46% per tahun. Kebutuhan benih lele hingga akhir tahun 2009 diperkirakan mencapai 1.95 miliar ekor."

Keterangan di atas bisa memberi gambaran kasar bagi Anda bahwa peluang berbisnis lele berprospek cerah.

Menurut yang di lansir dari blog pertenakanikan.blogspot.co.id




baca Juga : Cara Beternak Lele Untuk Pemula yang Menghasilkan

Berawal modal dengkul

Pengalaman manis berbisnis lele ini saya alami, akhir 2010 setelah memilih berhenti dari dunia aktivitas NGO, Usaha yang baru ditekuni 1 semester ini berawal diskusi warung kopi dengan saudara. yang akhirnya membuat sebuah farm.

Namun Joint farm ini tak berlangsung lama, yang akhirnya saya membangun usaha sendiri bermodalkan dengkul alias keterbatasan lahan dan finansial, namun toh saya masih memiliki modal utama yaitu ilmu pengetahuan dari hasil kuliah saya di fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.
Dalam budidaya Clarias sp nama latin dari lele, sangatlah tidak direpotkan dengan masalah air.

Daya tahan ikan lele sangat baik “namun ada 3 hal terpenting yang harus dipatuhi dalam budidaya lele yaitu, Manajemen Pakan, Manajemen Air, Manajemen Kesehatan.

Dari 3 hal diatas ada hal sederhana yang lebih terpenting,yaitu kualitas genetik benih, terkadang faktor ketiga  manajemen tersebut telah di penuhi namun tingkat kematian masih sangat tinggi, hal ini karena pememilih bibit (membeli bibit) yang tidak dikenal asal usul keturunannya, generasi turunan, kelemahan dan kelebihan strain bibit, apakah cocok dengan kondisi suhu di lokasi farm.


Jenis dan Strain Lele

Setidaknya terdapat enam jenis keluarga ikan berkumis ini, sebagian spesies pribumi dan sebagian lagi spesies asing, yang dapat dikembangkan di Indonesia. serta strain silangan lele yang saat ini populer.

1. Clarias batrachus dikenal sebagai ikan lele (Jawa),
· ikan kalang (Sumatera Barat),
· ikan maut (Sumatera Utara), dan
· ikan pintet (Kalimantan Selatan).

2. Clarias teysmani dikenal sebagai lele kembang (Jawa Barat),
· kalang putih (Padang).

3. Clarias melanoderma dikenal sebagai ikan duri (Sumatera Selatan),
· wais (Jawa Tengah),
· wiru (Jawa Barat).

4. Clarias nieuhofi dikenal sebagai ikan lindi (Jawa),
· limbat (Sumatera Barat),
· kaleh (Kalimantan Selatan).

5. Clarias loiacanthus dikenal sebagai ikan keli (Sumatera Barat),
· ikan penang (Kalimantan Timur).

6. Clarias gariepinus, yang dikenal sebagai lele dumbo atau King Cat Fish, spesies asing yang berasal Afrika.

7. lele dumbo merupakan  lele afrika yang di introduksi ke indonesia atahun 1980

8. lele sangkuriang, merupakan hasil permunian kembali lele dumbo  yang pernah di kembangkan di tahun 1980an dimana Betina keturunan kedua lele dumbo (F2) dikawinkan dengan pejantan keturunan keenam yang lokal (F6). Bagaikan ibu mengawini anak lelakinya sendiri, sehingga anakan yang dihasilkan kemudian dinamakan Lele Sangkuriang. Melihat hal diatas bahwa lele sangkuriang adalah lele dumbo hasil pemuliaan atau peremajaan.

9. Lele Phyton , Mendengar nama Phyton bayangan kita tertuju pada jenis ular Phyton yang bisa mencapai ukuran yang sangat besar dan mungkin menakutkan bagi sebagian orang. Akan tetapi jika melihat Lele Phyton, bentuknya jauh berbeda dengan ular phyton.

Secara fisik Lele Phyton tidak terlalu jauh berbeda dengan Lele jenis lain seperti Lele Dumbo, Lele Sangkuriang dan Ikan Lele Lainnya. Bentuk fisik Lele Phyton mempunyai mulut kecil, kumis panjang, kepala kecil, sedangkan badannya bulat dan panjang.

Secara genetik Lele Phyton merupakan hasil persilangan antara Lele Thailand dengan Lele Afrika yang dikembangkan di Pandegelang, Banten.

10. Lele Paiton. strain jenis ini memiliki keunggulan dimana benih ukuran 5-6 cm dapat di budidayakan dengan panen hanya 2 bulan, tidak mudah lemas saat di grading atau pengiriman jarak jauh, lele Paiton merupakan hasil silangan lele Claries gariepinus dengan Claries gariepinus namun indukannya yang di ambil dari F1. lele ini di kembangkan di Paiton Probolinggo Jawa timur sejak tahun 1990 sehingga dinamakan Lele Paiton.

Manajemen Budidaya Lele

Kelebihan lele Paiton adalah pertumbuhan yang cukup cepat, dari ukuran benih 5-6 cm membutuhkan waktu 50 sampai 55 hari pemeliharaan untuk mencapai ukuran konsumsi. Sementara pemeliharaan ukuran benih 9-10 cm hanya butuh waktu 30-45 hari hingga mencapai masa panen.

Untuk sementara ini penyebaran benih Lele Paiton memang masih sangat terbatas, belum semua daerah terjangkau oleh Lele ini.


Anda mungkin perlu mengenal dan memahami setidaknya ada 3 manajemen dalam budidaya lele. Karena dengan memahami ketiga manajemen tersebut tentu sangat membantu Anda mengantarkan kepada keberhasilan budidaya lele dengan hasil yang maksimal.


Manajemen Pakan
Manajemen Air
Manajemen Kesehatan
Manajemen Pakan
Umumnya pada budidaya pembesaran ikan air tawar, pakan merupakan komponen yang paling penting. Komponen ini kadang bisa menentukan apakah budidaya yang kita lakukan akan memperoleh keuntungan atau tidak.

Dari berbagai penelitian, perbandingan antara pakan dengan daging lele yang didapat dari hasil budidaya adalah 1:1. Namun terkadang banyak faktor yang mempengaruhi dalam masa pertumbuhan lele seperti cuaca,
kualitas bibit, perawatan kolam, air dsb yang nantinya mempengaruhi hasil panen.

Secara umum pakan untuk ikan lele dapat dibagi menjadi dua:

1. Pakan Pabrik
Pakan yang diproduksi oleh pabrik dikenal dalam bentuk pelet. Ukuran pelet bervariasi tergantung pada ukuran mulut/ umur lele.
Ada dua macam pelet di pasaran:
Pelet terapung. Dinamakan pelet terapung karena pakan beberapa saat akan terapung di atas air kolam sebelum tenggelam.
Pelet tenggelam, Pelet jenis umumnya relatif berat dan akan langsung tenggelam waktu dimasukkan ke dalam kolam

2. Pakan Buatan Sendiri

Salah satu upaya untuk meningkatkan keuntungan bagi para pembudidaya ikan adalah dengan menggunakan pakan tambahan alternatif di samping pelet.

Pakan alternatif yang bisa diberikan pada lele, yaitu ikan rucah, keong mas, bekicot, limbah peternakan, ayam, burung puyuh, belatung, limbah penetasan telur dan limbah pemindangan ikan. Lele sangat membutuhkan protein hewani untuk pertumbuhannya.

Kelebihan pakan alternatif adalah harganya murah dan mengandung protein yang cukup untuk kebutuhan lele. Sementara itu, kelemahan pakan alternatif adalah kurang praktis jika dibandingkan dengan pakan
buatan, seperti pelet.


Pakan anakan lele berupa :

pakan alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air dan cacing kecil (paling baik) dikonsumsi pada umur di bawah 3 – 4 hari.
Pakan buatan untuk umur diatas 3 – 4 hari. Kandungan nutrisi harus tinggi, terutama kadar proteinnya. Anda bisa mencampur pakan buatan tersebut dengan produk tertentu yang mengandung berbagai unsur mineral penting, protein dan vitamin dalam jumlah yang optimal untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh.
Manajemen Air
Ukuran kualitas air dapat dinilai secara fisik :
air harus bersih
berwarna hijau cerah
kecerahan/transparansi sedang (30 – 40 cm).
Ukuran kualitas air secara kimia :
bebas senyawa beracun seperti amoniak (sisa pakan yang mengendap di kolam)
mempunyai suhu optimal (22 – 26 0C).
Kualitas air harus diperhatikan agar selalu dalam keadaan yang optimal. Anda bisa memberikan pupuk buatan pabrikasi tertentu yang mengandung unsur-unsur mineral penting, lemak, protein, karbohidrat dan asam humat. Ini mampu menumbuhkan dan menyuburkan pakan alami yang berupa plankton dan jenis cacing-cacingan, menetralkan senyawa beracun dan menciptakan ekosistem kolam yang seimbang.

Manajemen Kesehatan

Pada dasarnya, anakan lele yang dipelihara tidak akan sakit jika mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Anakan lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan (air) yang jelek.

Kondisi air yang jelek sangat mendorong tumbuhnya berbagai bibit penyakit baik yang berupa protozoa, jamur, bakteri dan lain-lain. Maka dalam menejemen kesehatan pembenihan lele, yang lebih penting dilakukan adalah penjagaan kondisi air dan pemberian nutrisi yang tinggi.

Apabila anakan lele terlanjur terserang penyakit, dianjurkan untuk melakukan pengobatan yang sesuai. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa, bakteri dan jamur dapat diobati dengan formalin, larutan PK (Kalium Permanganat) atau garam dapur. Penggunaan obat tersebut haruslah hati-hati dan dosis yang digunakan juga harus sesuai.